Artikel ini adalah Lesson Note dari podcast episode. Silakan dengarkan podcast sambil membaca artikel ini agar lebih mudah memahami materinya.
Dengarkan podcast di sini:
Spotify|YouTube|Apple Podcast
Apa Itu Ciri Khas Bahasa Jepang?
Di halaman ini ada lima poin penting:
- 品詞(ひんし)jenis kata
- 語順(ごじゅん)urutan kata
- 述語(じゅつご)predikat
- 助詞(じょし)partikel
- 省略(しょうりゃく)penghilangan kata
Dalam artikel ini kita fokus pada poin kedua, yaitu 語順(ごじゅん) atau urutan kata.
Materi ini berdasarkan buku Minna no Nihongo Shokyuu 1 versi bahasa Indonesia, khususnya halaman 2 yang berjudul Ciri Khas Bahasa Jepang.
Walaupun teman-teman tidak punya bukunya, tetap bisa mengikuti penjelasan ini.
Bahasa Jepang Menggunakan Struktur SOV
Bahasa Jepang memiliki struktur dasar SOV(Subject–Object–Verb).
Artinya:
Subjek → Objek → Kata kerja
Berbeda dengan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang menggunakan pola SVO(Subject–Verb–Object), dalam bahasa Jepang kata kerja atau predikat selalu berada di akhir kalimat.
Contoh perbandingan:
Bahasa Jepang
私は ごはんを 食べます。
Watashi wa gohan o tabemasu.
Bahasa Indonesia
Saya makan nasi.
Jika diterjemahkan sesuai urutan Jepang secara harfiah, menjadi:
“Saya nasi makan.”
Dalam bahasa Indonesia terdengar aneh, tetapi dalam bahasa Jepang struktur ini normal dan alami.
Inilah perbedaan paling mendasar antara bahasa Jepang dan bahasa Indonesia.
Mengapa Harus Menunggu Sampai Akhir Kalimat?
Dalam bahasa Jepang, informasi terpenting sering muncul di bagian akhir.
Artinya, saat mendengar bahasa Jepang, kita harus sabar sampai kalimat selesai.
Perhatikan contoh berikut:
私はその映画を…
Watashi wa sono eiga o…
“Saya film itu…”
Di sini kita belum tahu apa yang terjadi.
Maknanya baru jelas di akhir:
私はその映画を……見たいです。
Watashi wa sono eiga o… mitai desu.
“mitai desu.” berati “Ingin menonton.”
私はその映画を……見ました。
Watashi wa sono eiga o… mimashita.
“mimashita.” berati “Sudah menonton.”
私はその映画を……見たくないです。
Watashi wa sono eiga o… mitakunai desu.
“mitakunai desu.” berati “Tidak ingin menonton.”
Sampai bagian akhir muncul, kita tidak tahu apakah itu keinginan, masa lalu, atau bentuk negatif.
Karena itu, strategi penting dalam listening bahasa Jepang adalah: Dengarkan dengan saksama sampai akhir kalimat.
Bukan Hanya Kata Kerja, Perasaan Juga Muncul di Akhir
Struktur akhir ini tidak hanya berlaku untuk kata kerja, tetapi juga untuk perasaan dan bentuk negatif.
Contoh:
Sitiさんは Agusさんが…
Siti-san wa Agus-san ga…
Kita belum tahu bagaimana perasaan Siti.
Maknanya baru jelas di akhir:
Sitiさんは Agusさんが…好きです。
“suki desu.” berati “Suka.”
Sitiさんは Agusさんが…好きじゃありません。
“suki ja arimasen.” berati “Tidak suka.”
Sitiさんは Agusさんが…嫌いです。
“kirai desu.” berati “Benci.”
Sekali lagi, arti keseluruhan kalimat ditentukan oleh bagian terakhir.
Kesimpulan: Ciri Khas Urutan Kata Bahasa Jepang
- Bahasa Jepang memiliki struktur SOV.
- Predikat selalu di akhir kalimat.
- Bagian akhir menentukan makna seluruh kalimat.
Jika bagian terakhir tidak dipahami, arti keseluruhan kalimat tidak bisa ditangkap dengan benar.
Itulah ciri khas ke-2, urutan kata dalam bahasa Jepang.
Penutup
Di artikel ini kita membahas dasar penting dalam belajar bahasa Jepang, yaitu jenis kata dalam Minna no Nihongo 1 halaman 2.
Di artikel berikutnya kita akan membahas poin kedua, yaitu 述語(じゅつご)atau predikat dalam bahasa Jepang.
Kalau ada pertanyaan, silakan tulis di kolom komentar.
Sampai jumpa di artikel berikutnya.
